Minggu III Sesudah Epifania
Selasa, 23 Januari 2018
Renungan Pagi
TIDAK MALU SELAMANYA
Yesaya 45:14-17
“Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya;” (ay.17a)
Rasa malu adalah sesuatu yang inheren dalam diri manusia. Perasaan itu dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk karena melakukan kesalahan, pelanggaran dan dosa. Ribuan tahun yang lalu Israel pernah merasa sangat malu. Mereka dihukum oleh Allah melalui tangan bangsa Babilonia, karena dosa ketidakadilan dan penyembahan berhala. Seiring dengan hukuman Allah itu, Israel kehilangan muka di hadapan bangsa-bangsa. Mereka tidak bisa lagi membanggakan negeri Kanaan sebagai tanah perjanjian yang diberkati Tuhan, sebab mereka terbuang daripadanya. Mereka juga tidak lagi memiliki kehormatan, sebab kini mereka bukanlah orang-orang merdeka melainkan para tawanan atau orang-orang buangan. Siapakah yang dapat memulihkan keadaan Israel? Tidak ada, kecuali Allah!
Itulah sebabnya, melalui Nabi Yesaya, Allah berfirman bahwa Ia akan menghapus aib dan rasa malu Israel. Rasa malu yang disebabkan karena kemiskinan akan diakhiri dengan kesejahteraan (ayat 14a). Demikian pula rasa malu yang disebabkan karena hilangnya kehormatan akan diganti dengan kekaguman dari bangsa-bangsa sekitar (ayat 14e). Pengalaman Israel tentang rasa malu ini bukan tidak mungkin pernah menjadi pengalaman kita. Rasa malu membuat kita putus asa dan tidak mampu bangkit dari keterpurukan. Akan tetapi firman Tuhan melalui Nabi Yesaya ini menghibur kita! Tidak selamanya Tuhan membiarkan kita menanggung rasa malu. Sebaliknya, Ia sendiri berkenan mengampuni, memulihkan dan memberkati kita. Semua itu Allah lakukan supaya kita dapat kembali melayani dan bersaksi tentang kebaikan-Nya. Bagaimana mensyukuri kebaikan Tuhan itu? Tidak ada cara lain, kecuali berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran, ketaatan, kejujuran, kesetiaan, dsb. Maka rasa malu itu tidak akan pernah lagi kita alami untuk selama-lamanya. Bersediakah kita melakukannya hari ini?
Source: Sabda Bina Umat